Scroll untuk baca artikel
Inspirasi

Miras, Akar Luka Konflik di Morowali Utara

912
×

Miras, Akar Luka Konflik di Morowali Utara

Sebarkan artikel ini
Foto: Motor yang dibakar saat konflik di Morut (IST)

Morowali Utara,– Peristiwa pertikaian yang terjadi pada 19 Juli 2025 antara warga desa Keuno dan Bimorjaya (Masara), Kecamatan Petasia Timur, menjadi catatan penting tentang bagaimana seharusnya konflik diselesaikan secara substansial, bukan simbolis. Kejadian berdarah itu tak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga menyisakan trauma sosial yang bisa mengganggu kerukunan yang selama ini terjaga di masyarakat Morowali Utara.

Dari berbagai informasi yang dihimpun, konflik ini bermula dari ketersinggungan saat perayaan Padungku, sebuah pesta panen yang seharusnya menjadi simbol syukur dan kebersamaan. Sayangnya, pesta itu ternodai oleh kehadiran minuman keras. Para pelaku pengeroyokan mengakui bahwa mereka saat itu berada di bawah pengaruh alkohol.

Redaksi memandang bahwa kasus ini kriminal murni, bukan pelanggaran terhadap adat istiadat. Oleh sebab itu, penyelesaian masalah seharusnya berfokus pada akar penyebab, bukan pada sosok atau golongan tertentu yang justru berisiko memperluas konflik.

Di tengah proses hukum yang kini berjalan, muncul berbagai pendekatan “penyelesaian damai” melalui jabat tangan, sangsi adat, hingga aksi demonstrasi yang menuntut berbagai hal. Namun, langkah-langkah seremonial semata, dan tidak ada korelasi dengan adat, dan tanpa menyentuh akar masalah, yakni konsumsi dan peredaran miras, justru berpotensi mengabaikan pelajaran penting dari tragedi ini.

Fokus pada Akar, Bukan Permukaan

Masyarakat dan pemerintah daerah perlu menyadari bahwa penyelesaian konflik bukanlah tentang menutup luka dengan perban simbolis. Pendekatan yang dibutuhkan adalah pencegahan yang menyentuh inti persoalan, yakni pengawasan dan penindakan tegas terhadap peredaran minuman keras di desa-desa.

Miras, dalam berbagai kasus, sering kali menjadi pemicu tindakan kekerasan, kehilangan kesadaran, dan tindakan di luar nalar. Jika akar ini tidak dicabut, maka potensi konflik serupa sangat mungkin terulang, dengan korban dan cerita luka yang berbeda.

Perlu Tindakan Nyata, Bukan Sekedar Simbol

Penguatan edukasi masyarakat tentang bahaya alkohol, razia berkala oleh aparat keamanan, serta regulasi ketat atas distribusi miras harus menjadi prioritas. Ini bukan sekadar soal hukum, tapi soal menjaga masa depan generasi muda dan harmoni sosial.

Konflik sosial bukan sekedar soal siapa yang salah dan siapa yang harus meminta maaf. Ia adalah cermin dari apa yang tak beres dalam sistem sosial kita. Dan dalam kasus Morowali Utara, miras jelas menjadi bagian dari akar persoalan.