Morowali Utara- Suasana haru menyelimuti ruang kerja Wakil Bupati Morowali Utara (Morut), H. Djira, K, saat sejumlah guru Taman Kanak-Kanak (TK) dari berbagai wilayah di Morut menyampaikan isi hati mereka terkait nasib sebagai tenaga honorer K2 yang belum lulus seleksi. Dalam pertemuan yang berlangsung Rabu siang itu, para guru tidak kuasa menahan tangis.
Didampingi oleh Ustad Faisal Dg Siamme, seorang ASN sekaligus tokoh masyarakat dan tokoh agama yang dikenal aktif menyuarakan kepentingan publik, para guru menyampaikan keluh kesah mereka di hadapan Wabup Djira.
“Di ruang Wabup tadi, mereka menangis semua… Karena memang mereka telah mengabdi sebagai guru honorer bertahun-tahun,” ungkap Ustad Faisal usai pertemuan.
Ustad Faisal menyampaikan bahwa ada guru yang sudah mengajar di TK sejak tahun 2011, dan hingga kini belum juga mendapatkan kesempatan untuk lulus sebagai honorer K2. “Bayangkan, sudah 14 tahun mengajar dan mendidik anak bangsa. Kita tahu betapa tidak mudahnya mendidik anak-anak usia dini. Tapi karena panggilan nurani, mereka tetap setia mendedikasikan dirinya di dunia pendidikan,” jelasnya.
Sebagai bentuk keseriusan perjuangan, dua kepala sekolah ikut hadir dalam pertemuan tersebut untuk menjadi saksi bahwa para guru benar-benar aktif sebagai honorer di sekolah masing-masing.
Ustad Faisal menegaskan bahwa saat ini ia sedang mengumpulkan bukti-bukti sebagai bagian dari upaya advokasi agar kuota penerimaan honorer K2 dapat dibuka kembali, khususnya bagi para guru yang belum mendapatkan kesempatan selama ini.
Menanggapi keluhan tersebut, Wakil Bupati Djira menyampaikan bahwa pihaknya akan segera membahas masalah ini dalam rapat bersama Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Organisasi Tata Laksana (Ortal) guna mencari solusi terbaik.
Para guru berharap pertemuan ini menjadi titik awal dari perubahan nyata, agar pengabdian panjang mereka tidak berakhir sia-sia, dan dapat diakui secara resmi melalui mekanisme seleksi yang adil dan berpihak pada pengabdian.
Komentar