Berita Daerah
Home » Berita » Immanuel Ebenezer: Nama Kudus yang Tercoreng Skandal Korupsi

Immanuel Ebenezer: Nama Kudus yang Tercoreng Skandal Korupsi

Oplus_131072

Karier politik Immanuel Ebenezer, atau yang akrab disapa Noel, kini berada di persimpangan paling genting. Setelah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan pemerasan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), posisinya runtuh seketika. Jabatan prestisius sebagai Wakil Menteri Ketenagakerjaan yang dulu dianggap sebagai pencapaian puncak, kini sirna setelah Presiden RI, Prabowo Subianto, secara tegas memberhentikannya.

Nasib politik Noel pun kian redup. Tak hanya kursi pemerintahan yang lepas, statusnya di Partai Gerindra pun terancam dicabut. Ia kini berdiri di tepi jurang, menanti nasib yang ditentukan oleh proses hukum dan politik.

Namun, yang menarik untuk direnungkan bukan sekadar kejatuhan seorang pejabat, melainkan ironi yang melingkupi sosok dengan nama sarat makna religius ini. Immanuel Ebenezer, dua kata yang bagi umat Kristen begitu dalam maknanya.

Immanuel berarti “Allah beserta kita” (Yesaya 7:14; Matius 1:23), sebuah pengakuan iman bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam setiap langkah hidup manusia. Ebenezer berarti “Sampai di sini Tuhan telah menolong kita” (1 Samuel 7:12), sebuah ungkapan syukur atas pertolongan Tuhan dalam perjalanan umat-Nya.

Jika digabung, nama ini seakan melukiskan sebuah doa dan pengakuan iman: Allah yang menyertai sekaligus Allah yang menolong. Nama yang bukan hanya indah, tetapi juga mengandung beban moral, sebuah panggilan untuk hidup dalam iman, syukur, dan keteladanan.

Warda Dg Mamala Buat Merah Putih Meriah di DPRD Morut

Namun realitas berkata lain. Pemilik nama yang seharusnya menjadi simbol iman dan rasa syukur justru tergelincir dalam kasus yang mencoreng marwahnya. Di sinilah letak paradoks: nama yang sakral, penuh makna, ternyata tak menjamin hati seseorang bebas dari godaan kuasa dan harta.

Ironi ini seakan menjadi cermin bagi kita semua. Betapa nama yang diagungkan, jabatan yang ditinggikan, bahkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun, bisa runtuh hanya karena keserakahan. Apa yang semestinya menjadi amanah Tuhan untuk melayani sesama, berubah menjadi jalan pintas demi keuntungan pribadi.

Immanuel Ebenezer, nama yang seharusnya menjadi pengingat akan kasih dan penyertaan Tuhan, kini berubah menjadi catatan pahit dalam sejarah politik Indonesia. Kisahnya adalah peringatan keras bahwa jabatan adalah titipan, kekuasaan hanyalah alat, dan yang paling utama adalah menjaga integritas. Sebab, setinggi apa pun posisi seseorang, jika kehilangan kejujuran, ia akan jatuh lebih keras dari yang pernah ia bayangkan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement