BERITA MORUT
Home » Berita » Bedah Rumah Warga Lansia, Pemdes Tananagaya Tunjukkan Wujud Nyata Kepedulian

Bedah Rumah Warga Lansia, Pemdes Tananagaya Tunjukkan Wujud Nyata Kepedulian

Mamosalato — Di tengah keterbatasan dan usia senja, sepasang suami istri lanjut usia (lansia), Bapak Siswoyo dan istrinya, akhirnya dapat kembali merasakan hangatnya kepedulian. Rumah sederhana mereka, kini mulai disentuh tangan-tangan penuh cinta melalui program bedah rumah yang digagas Pemerintah Desa Tananagaya bersama Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta warga setempat.

Hari itu, Rabu (9/7), menjadi momen penuh haru. Dengan kondisi istri yang terus sakit dan tak lagi mampu beraktivitas, ditambah anak-anak yang jauh dari sisi mereka, Bapak Siswoyo tetap bertahan dalam keheningan dan keprihatinan hidup. Namun kepedulian sosial mengubah cerita. Gotong royong masyarakat menghapus lara merubahnya jadi senyuman dalam hidup keluarga kecil ini.

Kepala Desa Tananagaya, Samsudin Galendo, mengatakan bahwa program bedah rumah ini telah berjalan sejak tahun 2021 dan menjadi bentuk nyata dari komitmen pemerintah desa untuk menuntaskan kemiskinan, terutama bagi lansia dan warga yang benar-benar membutuhkan.

“Setiap tahun ada 10 rumah yang kami bantu untuk dibedah. Anggarannya kami ambil dari sisa dana Bantuan Langsung Tunai (BLT), sekitar 10 juta rupiah per rumah. Kami ingin setiap rumah yang tidak layak bisa berubah menjadi tempat yang lebih nyaman,” ujar Samsudin.

Polres Morowali Utara silahturahmi dengan Komunitas Ojek dan ajak jaga kamtibmas

Ia menjelaskan bahwa alokasi anggaran penuntasan kemiskinan sebesar 15 persen dari Dana Desa digunakan untuk berbagai bentuk bantuan, termasuk BLT. Namun karena saat ini hanya ada 15 penerima BLT aktif, sisa anggarannya dialihkan untuk kegiatan lain yang tak kalah penting: program bedah rumah.

“Ini yang kami bedah rumahnya Pak Siswoyo. Kasihan, istrinya sudah lama sakit, tidak bisa berbuat banyak. Anaknya juga jauh. Jadi kita turun langsung bantu. Kita juga berharap anggaran untuk tukang bisa diminimalkan karena gotong royong, agar dana lebih bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari mereka,” tambahnya.

Suasana penuh haru terlihat di sekitar rumah Pak Siswoyo. Warga dari berbagai usia bahu-membahu, tidak hanya memperbaiki rumah secara fisik, tapi juga membangun harapan dan semangat hidup bagi penghuninya. Tak ada imbalan, tak ada pamrih, hanya ada niat tulus untuk meringankan beban sesama.

Program ini bukan hanya soal membangun rumah, tapi juga membangun kembali martabat mereka yang sempat hampir kehilangan harapan. Dalam senyapnya penderitaan, masih ada suara hati yang peduli, yang menolak untuk tinggal diam.

Kepala Desa Samsudin Galendo mengungkapkan harapannya agar ke depan lebih banyak pihak terlibat, dan agar program-program seperti ini menjadi inspirasi di desa-desa lainnya. Karena kemiskinan bukan hanya soal angka, tapi tentang martabat dan kehidupan yang layak bagi setiap warga.

Berani Polisi Sentuh Nimrod Tandi?

“Kami tidak punya anggaran besar, tapi kami punya rasa dan kepedulian. Dan selama itu masih ada, kami yakin masih banyak yang bisa kita lakukan bersama,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement